Jamaluddin Sakung Bangga Bangun FKM Unismuh


Dikutip dari mercusuarnews.com – Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Jamaluddin Sakung merasa bangga dan puas bisa menjadi salah satu pihak yang turut membangun dan berkontribusi terhadap kemajuan kampus itu.
Sudah 14 tahun Jamaluddin terikat dengan FKM Unismuh, dimulai dari tahun 2004 sebagai pengajar, kemudian tahun 2007 ditunjuk sebagai Dekan Wakil (Wadek) 1 Bidang Akademik dan tahun 2009 dilantik sebagai Dekan FKM Unismuh. Selama dua periode dia dipercayakan memimpih institusi tersebut.
Namun yang tidak diketahui oleh publik pada saat itu, ia juga disibukkan dengan tugasnya di Universitas Tadulako (Untad). Tahun 2008, Program Studi (Prodi) Ilmu Kesehatan Masyarakat baru dirintis, empat tahun setelah FKM Unismuh didirkan.
“Saat itu saya ditunjuk sebagai ketua panitia pembentukan Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat Untad saya ditunjuk langsung Almarhum Sahabuddin Mustapa Rektor Untad kala itu,”kenangnya.
Penunjukan tersebut dilakukan karena Jamaluddin dinilai lebih dulu mengecap pengalaman mengajar dan mengembangkan akademik di institusi kesehatan masyarakat. Pendirian Prodi baru, berjalan mulus. Mereka cukup mengadopsi akademik milik FKM Unismuh.
Alhasil, Prodi Kesehatan Masyarakat resmi berdiri, di saat itu pula Jamaluddin menjalani serangkaian penjaringan untuk mencalonkan sebagai Dekan FKM Unismuh. Sementara di Prodi yang baru Jamaluddin ditunjuk sebagai Sekretaris Prodi dengan Ketua Prodi kala itu dipegang Hakim.
“Dia senior saya. Jadi ditunjuk menjadi Ketua Prodi,”ujar Jamaluddin.
Di tangan para pendiri-pendiri Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat Untad termaksud ia sendiri, saat itu pendaftar pertama mencapai 94 orang. Jalamuddin ingat sekali. Karena pendaftar pertama, mereka seluruhnya diterima. Di situlah awalnya prodi tersebut bergerak lebih cepat agar kondisi makin membaik.
“Saat menjadi sekretaris prodi, saya terpilih menjadi Dekan FKM Unismuh. Sehingga mau tidak mau saya harus melepas salah satunya karena saya harus konsentrasi dengan tugas baru. Saya tidak fokus bekerja di dua tempat,”terang dia.
Sehingga saat kembali mengabdi sepenuhnya untuk Unismuh sebagai Dekan, Jamaluddin banyak mencurahkan tenaga dan pemikirannya terhadap kampus tersebut. Saat ia memimpin, FKM belum berubah seperti sekarang. Bangunan baru mulai berdiri, fasilitas ruangan ditambah dan akreditasi mulai naik.
“Waktu saya baru menjabat, kami masih menumpang di ruangan milik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unismuh,”kata dia.
Perlahan-lahan Jamaluddin mulai membangun fakultas sendiri. Pertama, ia mendirikan kantor FKM di atas bukit tandus, berhutan dan penuh kaktus berdekatan dengan Gedung Rektorat. Sementara ruang kuliah mahasiswa masih menumpang di FISIP yang letaknya agak jauh dari kantor yang baru dibangun.
“Karena saya merasa tidak efektif. Mahasiswa harus turun naik gunung dari kantor FKM ke FISIP, maka saya berinisiatif membangun gedung belajar lewat dana pembangunan mahasiswa. Tidak ada bantuan sepersen dari pihak lain apalagi pemerintah,”papar dia.
Di masa satu periode kepemimpinannya, Jamaluddin terus menggenjot infrastruktur fakultas termaksud membangun gedung lainnya serta menambah fasilitas sarana dan prasarana, mulai dari pengajar dan fasilitas pendukung belajar lainnya.
“Nah sembari membangun infrastruktur, saya juga membangun Sumber Daya Manusia (SDM) para dosen. Tahun 2011 tiga orang dosen FKM telah menyelesaikan kuliah, disusul tahun 2012 dua dosen resmi bergelar master,”ungkap Jamaluddin yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester lima jenjang studi Doktor di Univeritas Hasanuddin Makassar Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Setelah itu tahun 2013, berkat kerja keras mereka, FKM berhasil memperoleh akreditasi B yang sebelumnya hanya mendapat akreditasi C. Pencapaian itu sangat disyukurinya karena bisa memajukan kampus sekaligus menghapus paradigma negatif kualitas institusi kesehatan di kampus swasta.
“Dengan berakhirnya masa jabatan saya sebagai dekan tanggal 15 Juli 2017 kemarin. Maka akreditasi FKM juga akan segera harus segera diperbaharui. Saya berharap akreditasi B masih terus dipertahankan,”ucap dia.
Yang perlu diperbaiki dari penyusunan borang nanti, tambah Jamaluddin, pemimpin yang baru dan para staf harus memperbaiki administrasi akademik dan manajemen keuangan. Kesejahteraan pegawai harus lebih diperhatikan dan mencari pendapatan-pendapatan lainnya untuk menambah penghasilan fakultas.
“Satu hal yang saya bangga, selama ini kontribusi saya tidak hanya di Unismuh tapi juga di Untad. Setelah selesai dari jabatan ini, saya ingin fokus dulu menyelesaikan studi saya,”tuturnya.
Di sisi lain, Jamaluddin mengaku sangat senang Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat di Untad telah berganti menjadi Fakultas Kesehatan Masyarakat karena sebelumnya masih menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK). Menurutnya, saat ini peminat di Kesehatan Masyarakat meningkat karena kebutuhan akan pelayanan semakin dicari.
“Semakin banyak alumni Kesehatan Masyarakat di Sulteng maka akan semakin baik kondisi kesehatan masyarakat di wilayah kita. Mengapa? bila dokter, perawat atau bidan diajarkan bagaimana cara mengobat, sarjana Kesehatan Masyarakat diajarkan preventif dan promotif. Moto kami, lebih baik mencegah dari pada mengobati,” kata Jalamuddin.INT